Matinya Single Bet: Bagaimana AI Mengubah Founder Menjadi VC
Berhenti menghabiskan waktu 6 bulan hanya untuk satu ide. Dengan leverage AI, hitung-hitungan startup telah berubah. Simak cara mengeksekusi strategi "Me as a VC" untuk membangun portofolio peluang, alih-alih hanya mengandalkan satu produk.

Pemain poker profesional tahu satu rahasia yang sering dilewatkan para amatir: Kamu tidak boleh jatuh cinta pada kartu di tanganmu. Kamu hanya boleh jatuh cinta pada permainannya.
Di dunia startup, kita dikondisikan secara budaya untuk melakukan sebaliknya. Kita jatuh cinta setengah mati pada "Ide Besar" kita. Kita merawatnya, melindunginya, dan menghabiskan enam bulan yang melelahkan untuk memolesnya sebelum membiarkan dunia melihatnya. Kita memperlakukan startup seperti pernikahan, padahal secara matematis, seharusnya lebih terlihat seperti serangkaian taruhan yang terukur.
Kewirausahaan, pada intinya, adalah permainan matematika. Firma investasi sangat memahami hal ini. Mereka tidak mempertaruhkan seluruh dana pada satu perusahaan; mereka berinvestasi dalam satu batch berisi sepuluh startup, dengan kesadaran bahwa tujuh mungkin gagal, dua mungkin balik modal (break even), dan satu mungkin mengembalikan seluruh dana investasi. Namun, sebagai founder, kita sering bertingkah seperti penjudi yang mempertaruhkan seluruh tabungan hidupnya pada Angka Merah 27.
Sudah waktunya untuk mengubah persamaannya.

Matematika Lama vs. Realitas AI
Selama satu dekade terakhir, saran standarnya sederhana: Fokus. Pilih niche, bangun MVP (Minimum Viable Product), dan iterasi. Siklus ini biasanya memakan waktu sekitar enam bulan untuk benar-benar memvalidasi product-market fit (PMF).
Tapi mari jujur tentang apa yang terjadi selama enam bulan itu. Kamu membakar uang. Kamu membakar energi emosional. Dan jika pasar tidak peduliâyang terjadi 90% dari waktuâkamu ditinggalkan dengan kode yang tidak diinginkan siapa pun dan ego yang terluka. Opportunity cost-nya sangat besar.
Hari ini, lanskapnya telah bergeser di bawah kaki kita. Asisten coding AI dan workflow berbasis agent memberikan apa yang saya sebut "10x Leverage". Apa yang dulunya butuh tim engineer tiga bulan, sekarang bisa dibuat prototipenya oleh satu builder cerdas dalam satu akhir pekan.
Ini bukan hanya soal kecepatan; ini soal volume. Jika kamu bisa membangun MVP dalam sebulanâatau lebih baik lagi, sepuluh MVP dalam enam bulanâkamu bukan lagi sekadar founder. Kamu menjadi Venture Capitalist bagi dirimu sendiri.
Model Operasi "Saya sebagai VC"
Bayangkan menjalankan hidupmu seperti sebuah micro-fund. Daripada bertanya, "Apakah ini ide yang the one?" kamu bertanya, "Apakah ini eksperimen yang layak masuk portofolio saya?"
Berikut adalah pendekatan radikal yang sedang saya eksplorasi, dan saya melihat founder-founder cerdas mulai mengadopsinya sekarang:
- Pola Pikir Portofolio: Kamu berkomitmen pada satu batch. "Saya akan ship 6 produk dalam 6 bulan." Kamu melepaskan egomu dari hasil individual produk mana pun.
- Struktur Tim: Lupakan merekrut karyawan atau dev junior. Model itu terlalu lambat dan berat. Sebaliknya, rekrut partner. Cari full-stack builder dengan pola pikir "AI Agent"âorang yang tahu cara menggunakan tools untuk mengerjakan pekerjaan lima orang.
- Pembagian Ekuitas: Semua orang adalah co-founder. Semua memegang saham yang signifikan. Kalian adalah unit pasukan khusus, bukan korporasi.
Dalam model ini, tim yang terdiri dari tiga orang mungkin bertanggung jawab menjalankan tiga atau empat proyek sekaligus. Terdengar kacau bagi manajer tradisional, tapi dengan AI menangani boilerplate dan logistik, ini ternyata sangat bisa dikelola.
Matikan Cepat, Gandakan Lebih Cepat
Keajaiban dari pendekatan ini terjadi pada fase pengambilan keputusan. Kamu melempar MVP ke pasar.
-
Skenario A: Sepi senyap.
-
Tindakan: Matikan segera. Jangan baper. Daur ulang kodenya, simpan pelajarannya, dan pindah ke ide berikutnya di backlog.
-
Skenario B: Ada traksi. Pengguna mengeluh soal bug (tanda bagus), atau lebih baik lagi, membayar.
-
Tindakan: Gandakan taruhan (Double down). Tuangkan sumber daya dari eksperimen lain ke yang satu ini.
Jika sebuah proyek benar-benar lepas landasâsaya bicara soal PMF nyataâproyek itu berhak menjadi perusahaan yang berdiri sendiri. Kamu lakukan spin-out, mungkin lead builder-nya jadi CEO, dan "studio" tersebut tetap memegang ekuitas.
Poin Praktis untuk Dibawa Pulang
Jika kamu sedang menyimpan ide startup hari ini, ini tantangan saya untukmu:
- Berhenti Memoles: Jika kamu belum ship apa pun dalam 30 hari, kamu sedang menunda-nunda, bukan membangun.
- Gunakan Tools: Jika kamu menulis setiap baris kode secara manual, kamu bekerja dengan satu tangan terikat di belakang punggung. Gunakan Cursor, v0, Claude, dan lainnya untuk menghasilkan kerangkanya (scaffolding).
- Cari Co-pilot, Bukan Karyawan: Cari orang yang menginginkan upside (potensi keuntungan), bukan gaji. Cari builder yang paham bahwa ini adalah permainan volume.

Jatuh Cinta pada Permainannya
Saya telah menghabiskan lebih dari 10 tahun membangun produk. Saya pernah merasakan kemenangan yang terasa seperti takdir dan kegagalan yang terasa seperti patah hati. Menengok ke belakang, kegagalan selalu terasa lebih menyakitkan ketika saya memegangnya terlalu lama.
Dengan mengadopsi pendekatan portofolio ini, kamu melindungi asetmu yang paling berharga: psikologimu. Kamu berhenti takut gagal karena kegagalan hanyalah bagian dari kumpulan data. Kamu menjadi anti-rapuh (anti-fragile).
Ini adalah zaman keemasan bagi technical founder. Biaya eksperimen telah turun mendekati nol. Satu-satunya hal mahal yang tersisa adalah waktumu. Jangan habiskan semuanya untuk satu kartu. Mainkan permainannya.
Bagikan ini

Feng Liu
shenjian8628@gmail.com